SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Hilang 20 Hari Siswi SMP Asal Sragen Ditemukan di Maospati Magetan
Hilang 20 Hari Siswi SMP Asal Sragen Ditemukan di Maospati Magetan

Hilang 20 Hari Siswi SMP Asal Sragen Ditemukan di Maospati Magetan. Sempat membuat gempar setelah hilang misterius, siswi kelas II SMP berinisial FAK (14), akhirnya ditemukan, Senin (31/10/2016).

Siswi asal Desa Gringging, Kecamatan Sambungmacan itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan setelah selama 20 hari dipaksa bergabung dengan anak-anak punk.

Korban ditemukan terdampar di sebuah lokasi di wilayah Maospati, Jawa Timur. Penemuan siswi yang hilang digondol dua teman pria kenalannya di Facebook itu, terungkap setelah korban mendadak tersadar dan menghubungi orangtuanya minta dijemput.

“Jadi ceritanya ibunya itu mendadak mendapat telepon dari anaknya minta dijemput di Maospati. Setelah itu ibunya langsung mencari ke Maospati, akhirnya anaknya itu ditemukan dan langsung diajak pulang,” ujar Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen Sugiarsi.

Ia menguraikan, saat ditemukan kali pertama, ibu korban langsung menangis mendapati kondisi putrinya. Pasalnya, kondisi korban sangat mengenaskan dengan pakaian lusuh dan penampilan layaknya anak gelandangan.

Dari keterangan korban, ia mengaku selama 20 hari dipaksa untuk ikut rombongan anak punk dari dua teman pria yang dikenalnya via Facebook.

Selama 20 hari itu, korban tinggal menggelandang bersama rombongan punk dan berpindah-pindah tidak menentu.

Saat kali pertama tiba di rumah, kakek korban langsung syok mendapati cucunya dalam kondisi mengenaskan. Bahkan, menurut Sugiyarsi, kakek korban langsung jatuh sakit dan saat ini dirawat di rumah sakit.

Namun saat ditanya apakah korban juga sempat mengalami kekerasan seksual selama 20 hari menggelandang bersama rombongan punk, hingga kemarin korban belum mau bercerita.

“Jadi begitu sampai di rumah, kakek korban ini malah ambruk dan dibawa ke rumah sakit. Mungkin saking sedihnya melihat cucunya pulang kok kondisinya sangat mengenaskan,” jelasnya.

Sugiarsi menambahkan, kasus ini diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi orangtua untuk senantiasa mengawasi putra-putrinya, terutama pergaulan mereka dengan handphone, dunia maya, dan situs jejaring sosial.

Sebab banyak kasus anak di bawah umur di Sragen yang mendadak menghilang digondol kenalan barunya di Facebook.