SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Jembatan Biting Badegan, Fasum yang Eksotis Jadi Ajang Poto
Jembatan Biting Badegan, Fasum yang Eksotis Jadi Ajang Poto

Jembatan Biting Badegan, Fasum yang Eksotis Jadi Ajang Poto. Potensi wisata bumi reyog seolah tidak ada habisnya dijelajahi. Tidak hanya lanskapnya saja yang bisa jadi objek wisata. Bahkan fasilitas umum seperti jembatan pun bisa memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi wisatawan. Di era pesatnya pemanfaatan media sosial, objek apa pun yang menarik gampang terkenal. Belakangan, sebuah jembatan gantung ramai diperbincangkan di media sosial karena eksotis. Terutama, bagi kalangan pecinta fotografi.

Jembatan gantung tersebut terletak di Biting, Badegan. Sebenarnya, jembatan tersebut merupakan akses utama warga dukuh Temon menuju jalan raya. Namun belakangan, fungsi bertambah jadi objek wisata. Salah  seorang pengunjung, Ardilla Yulianti, 21, warga Mangkujayan, Ponorogo mengaku mengetahui jembatan gantung tersebut dari media sosial. Awalnya, dia hendak berkunjung ke taman wisata Kucur, di Biting, Badegan. Namun karena penasaran, dia menyempatkan berkunjung dan berfoto di atas jembatan dengan lebar tak lebih dari dua meter tersebut. ‘’Awalnya tahu dari media sosial. Sebab dari foto-fotonya bagus. Makanya menyempatkan diri datang kesini (jembatan gantung, Red),’’ ujarnya.

Saat Jawa Pos Radar Ponorogo berkunjung ke jembatan gantung itu kemarin (30/10), selain Ardilla dan temannya, ada enam orang lain yang juga datang. Menurut Pardi, warga setempat, jembatan tersebut memang kerap dikunjungi mereka yang ingin berfoto. Saat akhir pekan, jumlah pengunjung naik berlipat. Mereka tidak dipungut biaya. ‘’Gratis, juga tidak ada biaya parkir. Karena jembatan ini kan memang hanya fasilitas umum dan bukan objek wisata,’’ terangnya.

Menurut Pardi, jembatan gantung tersebut dibangun 1994 lalu. Sebelum itu, tidak ada jembatan. Warga Dukuh Temon pun harus menyeberangi sungai Pletes menuju daerah lain. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan jika aliran sungai tidak deras. ‘’Kalau sungainya deras ya tidak bisa menyeberang. Sebab dulu tidak ada akses lain,’’ ujarnya.

Kepala Disbudparpora Ponorogo Sapto Djatmiko menuturkan, pihaknya mengapresiasi respons masyarakat menemukan atau menciptakan objek wisata baru. Itu karena jika dilanjutkan dapat berpengaruh pada ekonomi warga sekitar. Misalnya, dapat dibangun warung makan atau tempat parkir yang dikelola warga setempat. Namun yang jadi catatan, fungsi fasilitas itu tetap harus diutamakan. Selain itu, keamanan juga tidak boleh dikesampingkan. ‘’Karena jembatan, ya fungsi yang harus diutamakan adalah akses penghubungnya bagi warga sekitar. Selama tidak mengganggu dan aman, tidak masalah,’’ jelasnya.(mg4/irw/radar madiun)