SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Guo Ghaib Sigolo Golo, Tempat Lahirnya Nama Ponorogo
Guo Ghaib Sigolo Golo, Tempat Lahirnya Nama Ponorogo

Guo Ghaib Sigolo Golo, Tempat Lahirnya Nama Ponorogo. Kurang lebih 100 meter dari makam Joyodipo (Mbah Japan), terdapat sebuah tempat bersejarah yang disebut gua (ghaib) Sigolo- Golo. Dinamakan gua ghaib karena secara kasat mata tidak terlihat oleh mata manusia, namun mereka yang tajam mata batinnya mempercayai gua itu ada

Dari Lokasi MTs N Ponorogo, letak guo Sigolo- Golo sekitar 25 meter di utara sekolah. Di tempat yang dipercaya sebagai Guo Sigolo -Golo, tumbuh sebuah pohon Asam besar.

Asal mula guo Sigolo Golo adalah sebagai berikut. Nama Sigolo-Golo berasal dari kata bahasa Jawa lama kagolo-golo (diharap dan cita citakan dengan sangat). Konon Batoro Katong oleh ayahnya Prabu Brawijaya V di cita- citakan akan dijadikan raja penerus Majapahit.

Saat terjadi kekacauan di kerajaan Majapahit, Prabu Brawijaya berpesan kepada Joyodipo untuk membawa 3 pusaka yakni tombak Tunggul Nogo,Payung Tunggul Wulung dan sabuk Cindhe Puspita dengan pesan hanya anak keturunanya yang bisa melihat pusaka tersebut.

Joyodipo lalu bertapa di dekat guo Sigolo-Golo. Batoro Katong lalu melihat 3 pusaka tersebut dan bertanya itu milik siapa. Ki Joyodipo berkata” Ternyata benar Raden adalah putra Prabu Brawijaya karena bisa melihat pusaka ini, ambilah yang menjadi hak anda”.

Ketika pusaka di ambil, terdengar suara menggelegar 3 kali dan tanah terbuka membentuk gua. Ki Joyodipo lalu memberinya nama Sigolo-Golo. Ditempat tersebut Bathoro Katong lalu bermusyawarah memberi nama tempat yang akan di bangunya.

Kota yang dibangun tersebut kemudian dinamakan Pramana Raga, Kata Pramana Raga berasal dari kata Pramana (daya hidup) dan Raga (jasad) yang berarti bahwa di balik badan manusia tersimpan suatu rahasia hidup, sedangkan kata Ponorogo berasal dari kata Pono berarti tahu,faham, dan Rogo berarti badan, raga, atau diri. Arti Ponorogo adalah “mampu memahami diri sendiri” atau dalam kata lain disebut “mawas diri lahir dan batin.”

Referensi: Buku Babad Ponorogo,Karangan Purwowijoyo,Bab I hal 15. Sumber Ponoragan.Com