SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Pengurus PSHT Madiun Datangi Mapolres Mojokerto Minta Maaf Atas Kericuhan Pengukuhan
Pengurus PSHT Madiun Datangi Mapolres Mojokerto Minta Maaf Atas Kericuhan Pengukuhan

Pengurus PSHT Madiun Datangi Mapolres Mojokerto Minta Maaf Atas Kericuhan Pengukuhan. Pengurus Pusat PSHT Madiun menyampaikan pernyataan sikap pasca aksi simpatisan Perguruan Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang mengamuk di perempatan Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Pernyataan sikap tersebut disampaikan dengan harapan agar bisa meredam potensi konflik. Pernyataan sikap itu dikeluarkan setelah pengurus PSHT melakukan pertemuan tertutup dengan polisi dan TNI di Mapolres Mojokerto Kota.

Dalam pertemuan tertutup tersebut dihadiri perwakilan pengurus pusat PSHT Madiun, pengurus PSHT cabang Mojokerto, Gresik, Lamongan, Sidoarjo dan Surabaya serta pihak kepolisian. Selain Kapolres Mojokerto Kota, dalam pertemuan tersebut juga hadir Kapolres Mojokerto, Dandim 0815 Mojokeryo, Kapolres Jombang, Kapolres Gresik, perwakilan Polres Lamongan dan Sidoarjo.

Indarto selaku, anggota tim advokasi dan bantuan hukum pengurus pusat PSHT Madiun, menyampaikan pernyataan sikap yang berisi empat poin penting yang merupakan hasil rapat tertutup tersebut.

“Kami atas nama PSHT menyampaikan duka cita atas meninggalnya Dwi Cahyono, warga ranting PSHT Dawarblandong semoga khusnul khotimah. Kami atas nama keluarga besar PSHT khususnya cabang Mojokerto dan sekitarnya sekaligus mewakili pengurus pusat PSHT Madiun, meminta maaf yang sebesar-besarnya atas gangguan keamanan yang ditimbulkan akibat kegiatan di Kabupaten Mojokerto,” ungkapnya.(19/10/2016)

Masih menurut Indarto, munculnya ekses negatif bagi masyarakat. Pihaknya mengaku siap memberi ganti rugi material yang dialami masyarakat. Poin ketiga yakni, pengurus PSHT meminta dan mempercayakan kepada Polres Mojokerto Kota untuk melakukan penegakan hukum kasus-kasus yang menimpa warga PSHT agar dilakukan secara cepat, profesional, transparan, dan berdasarkan fakta dan bukti.

“Poin keempat, berdasarkan data dan fakta yang kami kumpulkan dari investigasi internal, kami menyimpulkan insiden di Kupang (Kecamatan Jetis) sebagai kasus kriminal biasa. Tidak ada muatan konflik antar perguruan. Pernyataan sikap ini juga sebagai mandat dari pengurus pusat PSHT Madiun dan kami berharap ke depan tercipta situasi kondusif di Mojokerto dan sekitarnya,” tegasnya.

Ketua PSHT Cabang Mojokerto, Hari Sucipto menambahkan, jika pasca insiden di Desa Kebonagung dan Tangunan di Kecamatan Puri, di Desa Kupang, Kecamatan Jetis serta di Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, pihaknya meminta semua warga dan simpatisan PSHT untuk bersikap arif bijaksana.

“Kami menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kekerasan ini kepada pihak kepolisian,” ungkapnya.

Masih menurut Hari, pihaknya meminta agar semua para ketua cabang membantu mengkondisikan masing-masing cabang untuk tidak menghadirkan atau mengirim atau datang sendiri diminta untuk diawasi agar tak datang ke Mojokerto. Khususnya ke Dawarblandong yang merupakan rumah duka, Dwi Cahyono (19) di Desa Temuireng.

Sementara itu, Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Nyoman Budiarja menyambut baik pernyataan sikap para pengurus PSHT ini.

“Kami berharap kepada semua warga PSHT untuk mematuhi apa yang sudah menjadi kebijakan pengurus organisasi. Jika dikemudian hari terjadi letupan, sesuai kesepakatan bersama tadi, maka kami akan menindak tegas,” pungkasnya.(elo)