SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Kabar Terkini TKI Ponorogo dan Delopo yang Terseret Badai Typhoon di Taiwan
Kabar Terkini TKI Ponorogo dan Delopo yang Terseret Badai Typhoon di Taiwan

Kabar Terkini TKI Ponorogo dan Delopo yang Terseret Badai Typhoon di Taiwan. Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Ponorogo, Sumani, membenarkan bahwa salah satu TKI Ponorogo hilang di Taiwan karena mengalami kecelakaan saat ada badai Typhoon,  Selasa (27/9/2016) silam. TKI itu atas nama Hadi Baskoro warga Desa Semanding, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo.

Dia menerangkan, awalnya sesaat setelah badai Typhoon di Taiwan tidak ada kabar TKI yang hilang. Namun, Kamis (29/9/2016) KBRI baru memperoleh kabar bahwa ada dua korban TKI. “Dua TKI tersebut, satu dari Ponorogo atas nama Hadi Baskoro. Kemudian satu lagi dari Kabupaten Madiun atas nama Basori,” jelas Sumani kepada beritajatim.com, Senin (10/10/2016).

Dia memaparkan, dari KBRI mengabarkan bahwa Baskoro sengaja menyelamatkan diri dari Mess ketika badai Typhoon menyerang Taiwan. Dia membawa truk milik perusahaan. “Kalau ceritanya sih menyelamatkan diri ke terowongan bawah tanah tempat dia bekerja. Namun mengalami kecelakaan terperosok di laut saat badai Typhoon melanda,” paparnya.

Sampai saat ini, lanjut dia, belum ditemukan jenazah baik Baskoro maupun Basori. Hanya saja di TKP, ada celana kedua TKI tersebut.

Sementara, Sumani mengaku sudah ke rumah keluarga. Selanjutnya, pihak keluarga meminta agar korban ditemukan. Baik dalam keadaan hidup atau tinggal jenazah.

“Yang jelas kami masih mengusahakan. Pihak KBRI juga melakukan pencarian. Nantinya juga ada santunan,” katanya.

Sebelumnya Badai Typhoon yang melintasi akhir September lalu menghilangkan 1 TKI asal Ponorog. Adalah Hadi Baskoro (48) TKI asal Desa Semanding, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo yang merenggang nyawa karena tersambar badai Typhoon, Rabu (27/9/2016) lalu.

Tangis terus berderai di pipi istri Hadi Baskoro, Dia mengatakan sebelum dinyatakan hilang, suaminya menghubunginya pada pagi harinya. “Suami saya sebelum hilang telepon pada pagi harinya. Tapi sorenya saya ditelepon saudara bahwa suami saya hilang. Karena terkena badai Typhoon,” kaya Umiyati.

Dia mengaku masih belum percaya kalau suaminya hilang karena basai Typhoon. Dia menjelaskan dari keterangan yang didapat suaminya sebenarnya diliburkan saat badai Typhoon.

Namun, lanjut dia, saat itu, suaminya mengambil makan. Saat ditengah jalan badai Typhoon menyerang. “Akhirnya kecelakaan dan nyemplung ke pantai. Namun belum dinyatakan tewas karena belum ada jenazah,” terangnya.

Umiyati memaparkan suaminya tidak seorang diri. Namun ada juga TKI asal Dolopo dan juga belum ditemukan sampai sekarang.

Dia berharap suaminya cepat ditemukan. Entah bernyawa atau tidak bernyawa. “Kalau memang sudah meninggal semoga cepat ditemukan. Pun masih hidup ” kata ibu dua orang anak tersebut.

Umiyati mengaku tidak ada firasat apapun. Suaminya bahkan saat telepon rumah ingin memperpanjang kontrak. Namun dirinya ingin suaminya pulang segera ke Indonesia.

“Sudah 3 tahun 7 bulan. Saya pengen suami cepat pulang saja. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Suami saya hilang,” katanya sambil menahan tangis. (beritajatim.com)