SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Terinspirasi Reog Ponorogo Mahasiswi Cantik Ini Ciptakan Tarian Baru
Terinspirasi Reog Ponorogo Mahasiswi Cantik Ini Ciptakan Tarian Baru

Terinspirasi Reog Ponorogo Mahasiswi Cantik Ini Ciptakan Tarian Baru. Lahir di Kota Reog, mahasiswi cantik bernama Riska Nur Rahyuningrum ini ingin ikut melestarikan kesenian di tanah kelahirannya.

Mahasiwi semester tujuh Jurusan Seni Tari (penciptaan) di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini mengaku menyukai kesenian tari sejak ia duduk di bangku kelas VI SD.

Ibu kandungnya yang pertama mengenalkannya dengan seni tari. Ibunya berprofesi sebagai penari gambyong di Ponorogo.

“Jadi awalnya saya belajar dari ibu. Ibu saya penari gambyong,” kata gadis yang lahir di Ponorogo, 2 Mei 1995, silam.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menuturkan, meski lahir di Kabupaten Ponorogo, dia baru belajar Tari Reog ketika duduk di bangku kuliah.

Maklum, mulai SD hingga SMA, Riska bersekolah di Solo.

“Jadi, mulai SD hingga SMA saya bisanya masih menari Gambyong,” ucapnya

Baru kemudian, lanjutnya, ketika dia kuliah ia mulai tertarik untuk mempelajari kesenian tradisional dari Bumi Reog, tempat dia dilahirkan.

“Nah waktu kuliah, ditanyalah sama teman-teman, dosen. Bisa menari Reog atau tidak, masa lahir di Ponorogo tidak bisa menari Reog,” kata Riska menirukan pertanyaan dari teman dan dosen yang ditanyakan kepadnya.

Akhirnya awal semester 3 pada 2013 dia bergabung dengan paguyuban tari reog Manggolo Mudho, di Jogja.

Berkat ketekunannya, ia pun diajak ikut tampil pada ajang Festival Reog Nasional (FRN) 2014 di Ponorogo, sebagai penari jathil atau penari berkuda bersama sanggar tari reog Manggolo Mudho.

Kini, menginjak semester tujuh, Riska kini sedang sibuk membuat sebuah karya tari. Dia memberi nama seni tari tugas akhirnya, Gembong Galing yang berarti Harimau dan Merak.

“Saya terinspirasi dari motif gerak ‘kebat’ tari Singobarong dalam kesenian Reog Ponorogo,” katanya.

Dia mengambil gerakan pakem dalam tarian Singobarong, yakni gerak “kebat” yang dia kembangkan menjadi tarian baru.

Riska berharap, karya tari yang dia ciptakan, tidak hanya sekadar menjadi tugas akhir namun juga menambah kekayaan seni tari di Ponorogo.

“Harapannya, tarian yang saya ciptakan ini juga dipelajari di sangar-sangar tari di Ponorogo,” imbuhnya.(setenpo.com)