SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Polsek Paron Bekuk Satu Lagi Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur
Polsek Paron Bekuk Satu Lagi Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur

Polsek Paron Bekuk Satu Lagi Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur. NGAWI. Kepolisian sektor (Polsek) Paron berhasil membekuk HP (23) warga Desa Babadan, Kecamatan Paron. Pelaku yang diduga melakukan persetubuhan anak dibawah umur hingga hamil ini dibekuk tanpa perlawanan disekitar Pasar Jogorogo pukul 10.00 WIB, Selasa kemarin, (09/08).

Menurut informasi yang berhasil digali disebutkan, HP diduga kuat telah melakukan tindak asusila dengan menyetubuhi TF (15) seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang tidak lain masih kerabat familinya. Disebutkan HP ini telah berbuat tidak senonoh berhubungan layaknya suami istri terhadap TF sebanyak tujuh kali dilakukan di dua tempat antara rumah kosong dan sebuah kebun.

“Saya melakukan dengan dia (TF-red) sebanyak tujuh kali di rumah kosong dan kebun warga,” singkat HP kepada awak media.

Akibat perbuatanya tersebut korban TF yang rumahnya tidak jauh dari pelaku hamil diatas tiga bulan. Kelakukan bejat yang dilakukan pelaku itu sendiri terjadi sekitar Juni 2016 lalu setelah keduanya akrab menjalin persahabatan dengan alas an masih mempunyai hubungan keluarga dekat. Perilaku bejat HP  akhirnya terkuak setelah orang tua korban curiga terhadap perkembangan tubuh putrinya.

Kasatreskrim Polres Ngawi AKP Andy Purnomo menjelaskan, kasus asusila dengan korban TF yang tercatat masih pelajar SMK Kesehatan di wilayah Madiun ini memang terus dikembangkan petugas Polsek Paron dengan melibatkan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Ngawi. Dari keterangan saksi yang ada memang tindakan tidak senonoh terhadap TF dilakukan lebih dari satu pelaku.

“Kasus ini terus kami kembangkan sampai tuntas memang informasi sementara pelaku lebih dari satu orang. Namun demikian untuk mengungkap sejauh itu memang perlu waktu serta bukti yang kuat,” terang AKP Andy Purnomo, Rabu (10/08).

Untuk penjeratan pidana tandasnya, tetap diberlakukan pidana perlindungan anak dimana pelaku bakal dijerat dengan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

(pr/kanalponorogo.com)