SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Gadis Belia Diperkosa Di Pemakaman Umum Ngawi
Gadis Belia Diperkosa Di Pemakaman Umum Ngawi

Gadis Belia Diperkosa Di Pemakaman Umum Ngawi. Kelakuan duo pemuda Desa Teguhan Kecamatan Paron, Ngawi ini benar-benar keblinger. Makrus Efendi, 20, dan Choirul Anwar alias Kewer, 19, tega memperkosa DKP di tempat pemakaman umum (TPU) Desa Kerten, Minggu (25/9). Yang membuat miris, pada malam yang menyedihkan itu gadis 14 asal Kecamatan Paron itu sedang menstruasi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Lawu, peristiwa pemerkosaan itu baru dilaporkan pihak keluarga korban pada 28 September lalu. Dua pemuda yang tinggal hanya beda RT itu berhasil diringkus anggota Polsek Paron, kemarin (3/10) sekitar pukul 12.00 WIB.

Kapolsek Paron AKP Wayan Murtika menjelaskan Makrus ditangkap saat sedang bekerja di salah satu toko bangunan di Desa Kerten. Sedangkan Kewer ditangkap di rumah temannya yang juga satu desa saat terlelap tidur. Saat ditangkap Makrus langsung mengakui perbuatannya sudah menyetubuhi DKP. Sedangkan Kewer sempat tidak mangakui perbuatannya. Namun dirinya sudah tidak bisa lagi berkilah saat mengetahui jika Makrus sudah tertangkap duluan. ‘’Untung bisa kami tangkap,karena sebelumnya kami dapat informasi kalau hendak kabur ke Bali,’’ ujar Wayan.

Penangkapan dilakukan setelah pihaknya mendapatkan laporan dari Par, nenek DKP pada Rabu (28/9) lalu. Pihaknya langsung mengumpulkan bukti-bukti kuat. Setelah itu langsung menyebar jaring-jaring informasi guna mencari keberadaan Makrus dan Kewer. Setidaknya butuh waktu lima hari hingga jaring-jaring yang disebar itu membuahkan hasil. Petugas unit Reskrim Polsek Paron mendapatkan informasi jika keduanya masih berada di sekitar Desa Kerten. ‘’Informasi yang kami dapatkan keduanya tidak pulang rumah dan menginap di salah satu rumah temannya. Kami langsung bergerak dan berhasil menangkap kedua pelaku ini,’’ imbuhnya.

Kasus pemerkosaan ini terjadi ketika DKP dan Ri,16, teman DKP perjalanan pulang menonton acara Mafia Salawat di Kecamatan Kendal sekitar pukul 00.00 Minggu (25/9). Saat melintas di Desa Gentong, keduanya yang mengendarai motor itu dibuntuti Makrus dan Kewer. Diduga kedua pelaku sudah dipengaruhi minuman keras (miras). Kemudian laju kendaraan DKP dan R yang tinggal satu desa itu disejajari keduanya. Saat itu Makrus menuduh R sering mengajak main pacarnya. Namun R menolak tuduhan tersebut. Hingga akhirnya terjadi sedikit adu mulut antara keduanya. Setelah mereda, Makrus meminta DKP dan R berhenti. Dia pindah ke motor R, berboncengan tiga dengan dalih ikut mengantarkan pulang DKP dan R. Sedangkan Kewer mengendarai motornya sendiri. ‘’Tapi tidak pulang ke rumah, malah diajak ke kompleks TPU Desa Kerten. Di sana keduanya (Makrus dan Kewer) menyetubuhi korban,’’ kata Wayan.

Kepada wartawan koran ini, Kewer mengatakan setibanya di TPU dirinya menyita handphone milik R. Kemudian dimasukkan ke dalam jok motor dan mengambil kunci motor R. Tujuannya agar R tidak memberitahu ke orang lain dan berusaha kabur. Kemudian dirinya memelorotkan celana DKP dan dilanjutkan dengan Makrus yang menggiring DKP ke tengah TPU. Di atas tanah, DKP disetubuhi Makrus. Kemudian giliran dirinya menyetubuhi DKP setelah sebelumnya menunggu di tempat motor parkir bersama R. Dia lupa kapan Makrus selesai hohohihe dengan DKP. Begitu temannya selesai, gantian dirinya yang menyetubuhi DKP. Saat itu dirinya melakukan perbuatan layaknya suami istri itu sebanyak tiga kali. ‘’Kalau berapa kalinya Makrus menyetubuhi DKP, saya tidak tahu,’’ ujar Kewer.

Dia menjelaskan, saat disetubuhi DKP hanya bisa pasrah. Perempuan yang drop out dari SMP Negeri itu hanya meminta agar diperlakukan tidak kasar. Kemudian, setelah puas hohohihe, Makrus dan Kewer berniat mengantarkan DKP pulang ke rumah. Namun saat itu DKP meminta agar menunggu hingga pukul 04.00. Pun DKP menolak jika diantarkan dan memilih pulang bersama R. ‘’Karena tidak mau diantar, kami ya langsung pulang,’’ dalihnya.

Sementara, Par, nenek DKP mengetahui jika cucunya diperkosa setelah mendapatkan kabar dari R. Kemudian dirinya menanyakan langsung ke DKP. Namun cucunya itu hanya bisa menangis dan tidak menjawab sepatah kata pun. Kemudian dirinya bertanya kembali ke R dan menanyakan siapa pelakunya. Hingga akhirnya disebutlah nama Makrus dan Kewer. Kemudian dirinya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Paron. ‘’Kami sekeluarga tidak terima dengan perbuatan yang telah dilakukan ke cucu saya,’’ katanya saat ditemui di rumah DKP. (mg3/ota/Jawa Pos Radar Lawu)