SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Santri Dimas Kanjeng Mengaku Malu Bila Pulang Tanpa Bawa Uang
Santri Dimas Kanjeng Mengaku Malu Bila Pulang Tanpa Bawa Uang

Santri Dimas Kanjeng Mengaku Malu Bila Pulang Tanpa Bawa Uang. Meski ribuan santri masih bertahan di tenda-tenda padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, namun sebagian santri mulai bingung dan malu untuk pulang.

Selain pengurus yayasan padepokan menghilang pasca digerebek polisi, mereka bingung karena tidak ada lagi yang mengurus makan dan kepastian pencairan uang.

Sebagian mengaku kehabisan uang dan bekal untuk hidup sehari-hari. Mereka berharap keluarganya mengirim uang untuk pulang kampung.

Salah satu santri asal Lampung, Risal memilih bertahan hidup di tenda padepokan sambil menunggu kiriman uang dari kerabatnya. Dia mengaku sudah 3 bulan nyantri tanpa ada kejelasan nasibnya.

“Saya sudah tiga bulan nyantri di padepokan bersama 7 teman saya yang juga berasal dari Lampung. Sebetulnya ingin pulang, tapi masih menunggu kiriminan uang dari kerabat saya,” kata Risal, saat ditemui di tenda padepokan, Minggu (25/9/2016).

Sutik, warga Madiun mengaku hampir setahun nyantri di padepokan Dimas Kanjeng dan memberikan mahar Rp 10 juta. Uang itu untuk pemekaran padepokan milik Dimas Kanjeng yang dianggap maha guru. Namun masih belum kunjung ada pembagian cairan uang dari yayasan, sehingga uang simpanan di rumahnya sudah habis.

“Sudah setahun ini saya bergabung bersama padepokan Dimas Kanjeng dengan memberi mahar Rp 10 juta. Tapi kalau pulang saya malu ke keluarga istri saya, karena tidak membawa uang ghaib yang tidak kunjung ada,” jelas Sutik, saat ditemui di bilik tendanya.

Dirinya pun hanya bisa pasrah kelanjutan nasibnya. Dan berharap pihak kepolisian memberikan langkah yang terbaik bagi santri korban Dimas Kanjeng.

Sementara pihak Kecamatan Gading, terus memantau dan mendata para santri padepokan dan terus memberi arahan agar segera pulang. Jika tetap nekat beratahana, maka nasibnya di padepokan kian tidak menentu.

“Saya tanyakan kenapa tidak pulang, meraka mengaku masih ingin nyantri, padahal kita tidak tahu mereka makan dari mana sehari-harinya. Tapi ada juga yang mengaku menunggu pencairan dari padepokan dulu,” kata Camat Gading Selamet Hariyanto di lokasi padepokan.