SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :
Mitos Dukuh Boto Desa Gelanglor Sukorejo Tak Boleh Buat Batu Bata
Mitos Dukuh Boto Desa Gelanglor Sukorejo Tak Boleh Buat Batu Bata

Bantarangin.Net – Mitos Dukuh Boto Desa Gelanglor Sukorejo Tak Boleh Buat Batu Bata.Sejumlah desa di Kabupaten Ponorogo ternyata memiliki mitos gaib yang masih dipercaya hingga jaman modern saat ini. Mitos ini memang sulit dipercaya akal, namun percaya atau tidak, masyarakat meyakininya dengan menghubungkan fakta-fakta atau peristiwa yang terjadi.

Selain Golan dan Mirah, di Kecamatan Sukorejo ada satu dusun yang memiliki misteri yang cukup unik, yakni Dusun Boto, Desa Gelanglor, Sukorejo. Meski nama dusun ini berarti batu bata atau dalam bahasa jawanya Boto, namun warganya sampai sekarang ‘diharamkan’ membuat batu bata. Bahkan, jika ada warga desa lain membakar batu bata menggunakan atau tidak sengaja memakai kayu dan ranting dari dusun Boto, konon bakal tidak matang alias tidak jadi.

Tidak ada yang berbeda ketika wartawan Media Mataraman berkunjung di Dukuh Boto yang terletak di paling utara wilayah Desa Gelanglor, kecamatan  Sukorejo ini. Rumah-rumah warganya pun sebagian besar sudah bagus, menggunakan batu-bata sebagai bahan bangunannya.

Namun, ada misteri yang cukup menarik dan dipercaya warganya hingga berlaku sampai sekarang. Yakni, warga dusun Boto tidak diperbolehkan membuat batu bata atau Boto. Menurut sesepuh Dukuh Boto, Jemadi (49) larangan membuat batu bata itu dilaksanakan sampai saat ini. Lantaran, dulu ada warga yang membuat bata namun ketika dibakar tidak matang. Bahkan, berapapun kayu bakar yang disediakan untuk membakar, batu bata itu tetap hitam. “Ada itu warga yang membuat dan membakar tapi pakai kayu bertruk-truk namun tidak jadi atau tidak matang,” ungkap Jemadi yang juga ta’mir Masjid ini.

Disamping itu, kayu dari dusun Boto ini pun jadi pantangan tersendiri dari pengrajian batu bata di Ponorogo. Sebab, jika sampai menggunakan kayu dari dukun Boto, maka dipastikan batu bata juga akan tidak matang. “Pernah itu warga Desa Lengkong tidak sengaja memakai kayu dari Dukuh Boto, batu bata miliknya berhari-hari tidak matang. Katutan ranting secuilpun batu bata tidak akan jadi,” bebernya.
Dia menyebutkan, larangan membuat batu bata ini sudah diwanti-wanti leluhurnya. Berdasarkan sejarah yang dipercayai, bahwa hal ini adalah akibat larangan dari pendiri atau babat dari Dukuh Boto yang bernama Puntodewo.

Dibeberkannya, konon datanglah pujangga Hindu Budha bersama tiga muridnya yang bernama Puntodewo. Kedatangannya guna membuka hutan di wilayah tersebut yang masih belantara. Ditempat itu ia hendak mendirikan tempat ibadah seperti wihara. Alangkah kagetnya dia, ketika menggali tanah untuk dijadikan batu merah, anehnya ditempat itu ditemukan batu merah dengan ukuran raksasa atau Boto. Akhirnya tempat itu dinamakan dusun Boto. “Sampai sekarang anak cucu di dusun Boto tidak diperkenankan membuat boto karena menyamai penemuan dari Puntodewo,” katanya.

Cerita yang dipercaya ini, menurutnya, hampir sama dengan keanehan Desa Golan dan Mirah. “Sudah dibuktikan oleh mahasiswa UNBRAW air Merah dan Golan dimasak semalam suntuk tetap tidak mendidih. Sama halnya dengan Dukuh Boto, walaupun batu bata dibakar selamanya tidak matang,” jlentrehnya.
Meski tidak boleh membuat batu bata, namun warga dukuh Boto tetap diperkenankan memakainya sebagai bahan pembangunan rumah. “Kalau pakai batu bata untuk rumah tidak masalah, tapi kalau membuat dan membakarnya dipastikan tidak matang. Kayunya pun juga sangat ditakuti sampai sekarang,” pungkasnya.

 

Mitos Dukuh Boto Desa Gelanglor Sukorejo Tak Boleh Buat Batu Bata

Sumber : Setenpo

Penulis : Agus Rifai / www.mediamataraman.com