SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :

Pengrajin Miniatur Reog Ponorogo

Bantarangin.NetMbah Misdi, Kakek Pengrajin Miniatur Reog Ponorogo. Apa yang dilakukan Mbah Misdi patut diapresiasi, terutama warga Ponorogo. Betapa tidak, meski usianya sudah menginjak kepala tujuh, namun tangannya masih terampil membuat berbagai miniatur reog Ponorogo. Tak hanya dadak merak, berbagai pelengkap kesenian reog, mulai dari gendang, topeng bujang ganong hingga kuda untuk jathil yang berukuran mini masih bisa dia ciptakan.

Kakek yang tinggal di Jalan Dewi Kunti, Kelurahan Surodikraman, Ponorogo Kota ini sudah menelateni usaha membuat miniatur reog ponorogo seperti ini sudah lebih dari tiga puluh tahun. Atau pasca ia memilih pensiun dari seniman reog Ponorogo.

Ia sengaja membuat miniatur reog karena ingin kesenian reog tidak hanya jadi cerita belaka tanpa ada wujudnya. Dengan membuat miniatur reog, paling tidak bisa menjadi bukti jika reog Ponorogo tidak akan luntur. Selain itu, dengan terpajangnya miniatur reog yang berada didalam pigura berukuran satu meter bisa membuat warga Ponorogo lebih mencintai dan memiliki budaya asli nenek moyang.

Baca Juga Sejarah Reog Ponorogo :

 

‘’Ya paling tidak dengan dipajangnya miniatur reog seperti ini bisa mengobati rasa kangen terhadap reog karena tidak bisa setiap hari kita bisa melihat kesenian reog. Apalagi warga Ponorogo yang berada diluar kota. Dengan memasang miniatur reog secara tidak langsung bisa mempromosikan kesenian reog,’’ kata Mbah Misdi sembari mengukir miniatur topeng bujang ganong.

Meski usia sudah renta dan tangan keriput karena termakan usia, namun hasil karya tangan mbah Misdi tidak kalah dengan seniman ukir lain. Terbukti miniatur reog buatannya bisa terjual hingga luar negri. Mulai Jepang, Malaysia, Singapura dan Suriname. ‘’Beberapa turis ada yang titip temannya ada juga yang langsung datang kesini untuk melihat dan langsung membeli miniatur reog buatan saya,’’ tuturnya kepada wartawan suarakumandang.

Tak hanya miniatur reog ponorogo, mantan pembarong dan pemain warok ini juga mahir dalam membuat miniatur, bapak empat anak ini juga mampu membuat reog sesungguhnya. Bahkan kemampuannya berawal dari membuat dadak merak lengkap dengan kendang. Namun karena minimnya pembeli, akhirnya kakek yang akrab disapa mbah Ndoweh ini memilih menekuni membuat miniatur reog Ponorogo.

’Lebih enak bikin miniatur reog, pembelinya banyak, bahkan langganan saya kadang antri karena minimnya tenaga untuk membuat. Soalnya anak anak saya tidak selalu bisa membantu membuat miniatur reog,’’ pungkasnya.

Mbah Misdi berharap adanya peran pemerintah daerah dalam pelestarian budaya serta adanya perhatian kepada pengrajin reog Ponorogo. Sebab selama ini nyaris tidak ada perhatian pemerintah kepada seniman reog. Ia takut jika ini terus dibiarkan, bisa jadi kesenian reog Ponorogo akan tinggal cerita. ‘’Sudah banyak seniman maupun pengrajin yang pensiun. Alasanya ya karena sulitnya mencari modal. Sedangkan pemerintah nyaris tidak pernah memperhatikan seniman maupun pengrajin reog,’’ jeasnya.
Sementara untuk sebuah miniatur reog, biasanya dibandrol mulai dari harga Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu rupiah, tergantung ukuran pigura dan miniatur reog.

 

Mbah Misdi, Kakek Pengrajin Miniatur Reog Ponorogo

Sumber : SuaraKumandang.Com

http://www.suarakumandang.com/2016/01/04/habiskan-usia-demi-pelestarian-budaya-ponorogo.php