SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :

[twocolumns]Situs Demangan, Peninggalan Sejarah Di Lereng Lawu[/twocolumns][twocolumns class=”omega”]  Demangan salah satu bukti peninggalan bersejarah di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi [/twocolumns]

Bantarangin.Net – Situs Demangan, Peninggalan Sejarah Di Lereng Lawu. Patut disayangkan, situs Demangan salah satu bukti peninggalan bersejarah di Desa Ngrayudan, Kecamatan Jogorogo, Ngawi, kondisinya kini makin terabaikan. Warisan budaya leluhur tersebut terlihat acak-acakan bahkan terkesan tidak adanya upaya pelestarian dari pihak pemerintah daerah maupun pusat.

Bukti sejarah situs Demangan terbagi atas tiga nama Masinan Kidang, Petilasan Kandang Kidang dan Belik Putri Ngrayud ketiga peninggalan ini sangat erat kaitanya dengan awal berdirinya Desa Ngrayudan.

Menurut Antok Purba dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur situs Demangan kalau dilihat sekilas diduga kuat memang ada hubunganya dengan Majapahit period 1300 M.

Kalau secara point of interest saya sendiri belum melihat seutuhnya dari situs tersebut namun kalau dilihat dari peninggalanya berupa lingga dan yoni maka untuk sementara masih menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit dimasa pemerintahan Jayanegara,” kilas Antok, Minggu (24/11).

Namun lain apa yang dikatakan Ali Mustofa seorang sesepuh asal Desa Ngrayudan sesuai versinya situs Demangan besar kemungkinan berasal dari jaman Kesultanan Mataram abad 17. Terbukti sudah adanya silsilah Demang atau yang sekarang ini disebut kepala desa.

Kalau dilihat sebutan Demang saya kira dari isitilah Kademangan berati dari period Mataram,” terangnya. Kemudian mengenai riwayat situs Demangan beber Ali Mustofa ada cerita klasik yang sampai sekarang ini masih diriwayatkan secara turun temurun.

Sesuai alur ceritanya semasa Ki Demang Surodimejo mempunyai seorang putri yang baru lahir namun tanpa disangka hilang tanpa meninggalkan jejak. Beberapa waktu lamanya putri kesayanganya tersebut dicari akan tetapi usaha Ki Demang Surodimejo sia-sia.

Pada suatu hari ada seorang janda dengan sebutan Mbok Rondo Mbluluk menemukan si jabang bayi putri kesayangan Ki Demang Surodimejo di hutan Jublek berjarak 4 kilometer dari Desa Ngrayudan sekarang ini.

Anehnya, kali pertama saat Mbok Rondo Mbluluk melihat bayi menangis tersebut berada dibawah dekapan seekor kidang (kijang-red). Tanpa membuang waktu bayi tersebut langsung diambilnya untuk diserahkan kepada Ki Demang Surodimejo yang sudah mencarinya beberapa hari. Saat perjalanan pulang inilah kidang yang tadinya mendekap bayi ini terus membuntuti Mbok Rondo Mbluluk.

Sesudah sampai kerumahnya Ki Demang Surodimejo, seekor kidang yang dianggap telah menyelamatkan jabang bayinya tersebut langsung dirawat dengan dibuatkan kadang yang berada disamping rumahnya. Dan hingga sekarang petilasan berupa kandang masih terlihat bentuknya yang masih menyisakan tempat minum si kidang dan sekarang disebut ‘Petilasan Kadang Kidang’.

Sedangkan nama ‘Masinan Kidang‘ sebagai bukti kalau tempat tersebut yang ditandai dua batu menjulang sebagai tempat “gosotan” atau batu yang dimanfaatkan kidang untuk menggesekan bagian tubuhnya. Masih tutur Ali Mustofa, pada jamanya tersebut Ki Demang Surodimejo karena terlalu sayang terhadap hewan piarakanya karena telah menyelamatkan putrinya ini maka dirinya memberikan semacam sabda atau biasa disebut ‘waler’.

Kata Ali, bunyinya sabda tersebut siapa saja yang sengaja atau tidak disengaja menyimpan bahkan membawa bagian dari tubuh kidang baik kulit hingga tulangnya ke Desa Ngrayudan maka akan terjadi petaka besar atau musibah secara mendadak dan mitos ini sampai sekarang masih berlaku.

Waktu tahun 1980 an ada pagelaran wayang kulit yang ada di desa sini kebetulan salah satu alatnya yakni kendang dibuat dari kulit kidang maka apa yang terjadi waktu itu musibah hujan angin yang meluluhlantakan wilayah sini,” jelas Ali Mustofa.

Sementara menyangkut ‘Belik Putri Ngrayud‘ diriwayatkan saat itu Putri Ngrayud dilamar oleh seorang maling kentiri yang mempunyai kesaktian luar biasa. Karena yang meminang seorang pencuri kontan saja Ki Demang Surodimejo menolak lamaran tersebut dengan bahasa halus yang disampaikan lewat permintaan.

1. Lokasi Belik Putri Ngrayud di Desa Ngrayudan, Jogorogo, Ngawi.Dimana sesuai permintaanya pencuri itu harus membuatkan saluran air sepanjang 10 kilometer menuju sendang dari Telaga Pasir yang berada di lereng Gunung Lawu dalam waktu semalam dengan ditandai sampai ayam berkokok sebagai tanda waktu pagi.

Namun rupanya maling kentiri harus menyesali pekerjaanya membuatkan saluran air dari tatanan bongkahan batu. Menjelang waktu tengah malam ada seorang putri di Dusun Gagar, Desa Ngrayudan yang dilewati saluran air tersebut tengah menyapu dihalaman dan ayam piarakanya berkokok. Lantas Ki Demang Surodimejo menganggap permintaanya kepada maling kentiri sudah gagal karena waktu sudah pagi.

Maka apa yang terjadi si maling kentiri dibikin kecewa dengan mengeluarkan sabda siapa saja perawan yang ada ditempat tersebut akan bernasib “gagar” atau sial yakni akan melahirkan anak namun tidak diketahui siapa suaminya.

Makanya hingga sekarang ini di Dusun Gagar masih banyak wanita mempunyai anak tapi tidak diketahui siapa yang menghamilinya,” pungkas Ali Mustofa.

Baca Juga :

  1. Menikmati Sunrise Dan Napak Tilas Pesarean Gunung Srandil
  2. Keindahan Alam Bukit Cumbri
  3. Pantai Kedung Tumpang Tulungagung
  4. Menikmati Keindahan Alami Kedung Kenthus
  5. Menelisik Keangkeran Klampis Ireng

 

Sumber :  Siagangawi.com/(pr)