SUKAI HALAMAN INI JIKA ANDA BELUM MENYUKAI :

Ide Kreatif Warga Slahung Dalam Mengolah LimbahBantarangin.NetIde Kreatif Warga Slahung Dalam Mengolah Limbah. Slahung Ponorogo – Awalnya tak pernah terpikirkan ketika melihat kayu bekas yang berserakan di tepi sungai anakan Bengawan Madiun itu. Kayu bekas itu terbawa arus sungai saat banjir tiba. Saat air mulai surut nampak berserakan di sungai yang penuh limbah kayu sehingga tak sedap dipandang mata.

Melihat kejadian itu, Seorang ibu warga Desa Cerbak, Kecamatan Slahung, Ponorogo berpikir bagaimana limbah kayu tersebut bisa dijadikan karya seni yang bisa di uangkan.

Baca Juga :

Awalnya ragu, tapi karena bertekad, akhirnya limbah kayu tersebut dirubahnya menjadi kerajinan yang bernilai jual. Meski baru satu tahun beroperasi, namun omzet yang didapat dalam satu bulan mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta.

Dengan dibantu suaminya dan tiga karyawannya, Sri Handyani (45) seorang ibu rumah tangga ini membuat pohon hias dari plastik yang berbahan baku limbah kayu. Bermacam jenis pohon hias yang dibuat ibu satu anak ini, yakni mulai jenis Sakura, Gazania, Bunga Matahari, Kamboja, Anggur hingga replika Pohon Bambu.

Saat ditanya, awal ide membuat pohon hias ini dari keresahannya melihat banyaknya sampah pohon yang terdapat ditepi sungai dekat rumahnya. “Awalnya saya hanya mengumpulkan kayu bekas. Baru setelah melihat di internet muncul sebuah ide untuk membuat pohon plastik berbahan kayu limbah,” katanya.

Saya melihat limbah kayu yang tidak terpakai mas, alangkah baiknya kalau ini dimanfaatkan untuk kegiatan ibu-ibu di sini sambil menambah pendapatan belanja untuk di rumah tangga. Ibu-ibu disini mayoritas kan petani, sambil menunggu hasil panennya lebih baik diisi dengan kegiatan membuat pohon hias,” jelas Sri Handyani.

Sri Handayani kemudian kepada Suarakumandang.com menunjukkan cara pembuatan pohon hias ini, yang menurutnya tidak sulit, yang terpenting ada kemauan dan tekad untuk bisa mengerjakan. Langkah awal, limbah kayu yang diambil dari sungai dijemur di bawah terik matahari selama satu minggu.

Baru ketika kayu telah kering, kulit pohon dikupas, diberikan lubang dan diberi cat pewarna agar kayu terlihat bersih. Setelah terpola dengan puluhan lubang, daun plastik yang ia beli dari Jakarta dimasukan ke dalam lubang dan diberikan lem agar daun tidak mudah lepas. Sementara di bagian bawah dipasang rumput plastik.

Untuk pemasaran, Sri Handayani masih mengandalkan penjualan via Online maupun pemasaran melalui pameran. Sedangkan untuk harga jual satu buah pohon plastik ia bandrol mulai Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan.

 

 

Sumber : (Suarakumandang.com/Ska)